Cerpen : Pesonamu
Angin malam di tepi Danau Kaca bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan bunga sedap malam yang samar. Di sana, di bangku kayu yang usang, duduklah Herman. Pandangannya kosong, menatap pantulan bulan yang retak-retak di permukaan air. Sudah hampir satu tahun, tapi setiap detail tentang Ningsih masih terekam jelas di benaknya, seolah baru terjadi kemarin sore. Herman pertama kali melihat Ningsih di festival buku kota. Bukan pada peluncuran penulis terkenal, melainkan di sudut terpencil toko buku bekas, tempat tumpukan novel klasik berdebu berada. Ningsih sedang memegang buku puisi lama karya penyair yang bahkan namanya jarang disebut di kelas sastra. Apa yang membuat Herman terpaku? Bukan gaunnya yang sederhana, bukan pula tawa renyah yang sempat ia dengar. Itu adalah tatapannya. Mata Ningsih adalah palet warna cokelat karamel yang hangat, namun memancarkan kedalaman yang tak terjangkau, seperti menyimpan rahasia dari ribuan senja yang terlewat. Malam itu, Herman membe...