Cerpen : Pesonamu



Angin malam di tepi Danau Kaca bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan bunga sedap malam yang samar. Di sana, di bangku kayu yang usang, duduklah Herman. Pandangannya kosong, menatap pantulan bulan yang retak-retak di permukaan air. Sudah hampir satu tahun, tapi setiap detail tentang Ningsih masih terekam jelas di benaknya, seolah baru terjadi kemarin sore.

Herman pertama kali melihat Ningsih di festival buku kota. Bukan pada peluncuran penulis terkenal, melainkan di sudut terpencil toko buku bekas, tempat tumpukan novel klasik berdebu berada. Ningsih sedang memegang buku puisi lama karya penyair yang bahkan namanya jarang disebut di kelas sastra.

Apa yang membuat Herman terpaku? Bukan gaunnya yang sederhana, bukan pula tawa renyah yang sempat ia dengar. Itu adalah tatapannya. Mata Ningsih adalah palet warna cokelat karamel yang hangat, namun memancarkan kedalaman yang tak terjangkau, seperti menyimpan rahasia dari ribuan senja yang terlewat.

Malam itu, Herman memberanikan diri. "Puisi yang bagus," katanya, suaranya sedikit serak.

Ningsih menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. "Anda juga menyukai Baudelaire?" tanyanya, suaranya sehalus beludru.

"Lebih suka ekspresi Anda saat membacanya," jawab Herman, menyesali keberaniannya yang tiba-tiba.

Alih-alih merasa terganggu, Ningsih tertawa kecil. "Ekspresi bosan, mungkin? Saya sedang mencari makna yang hilang dari bait terakhir."

Dari perbincangan tentang Baudelaire, mereka beralih ke kopi pahit, film bisu, dan mimpi-mimpi yang tak pernah diucapkan. Ningsih bekerja sebagai desainer grafis freelance, hidup dari satu proyek ke proyek lain, namun ia selalu menemukan waktu untuk duduk di bawah pohon tua dan membaca, ditemani sketsa-sketsa acak yang selalu ia sembunyikan jika Herman mendekat.

Pesonanya bukan hanya pada kecantikannya yang sederhana, atau kecerdasannya yang tenang. Pesona Ningsih terletak pada keasliannya yang sunyi. Ia tidak berusaha menjadi pusat perhatian; ia adalah pusat yang menarik segala sesuatu ke dirinya tanpa perlu bersuara keras. Ia adalah melodi minor yang membuat seluruh orkestra terdengar lebih kaya.

Herman jatuh cinta, sedalam Danau Kaca yang kini ia tatap.

Namun, seperti bulan yang hanya bisa meminjam cahaya, hubungan mereka pun terbatas. Suatu pagi, setelah menghabiskan malam dengan berbagi cerita di balkon apartemen Herman, Ningsih berkata, "Saya akan pergi, Herman."

"Ke mana?" tanya Herman, jantungnya berdegup kencang.

"Jauh. Mencari sebuah tempat yang selalu ada di dalam kepala saya, tapi tidak pernah saya temukan di peta." Ningsih menunjuk ke dadanya. "Saya harus menemukannya, Herman. Atau saya tidak akan pernah bisa benar-benar tinggal di mana pun."

Herman mencoba menahan, menggunakan segala argumen yang ia miliki. Aku mencintaimu, kita bisa menemukannya bersama, jangan pergi. Tapi, ia melihat kedalaman yang sama di mata Ningsih kedalaman yang memberitahunya bahwa ini adalah pencarian yang harus ia lakukan sendiri.

"Bolehkah saya ikut?" tanya Herman, suaranya lirih.

Ningsih tersenyum, senyum yang paling indah dan paling menyakitkan yang pernah dilihat Herman. Ia menggenggam tangan Herman... "Simpan pesonaku di hatimu, Man. Jika suatu hari nanti saya menemukan 'tempat' itu, saya akan kembali untuk membaginya denganmu."

Herman menghela napas, debu kenangan itu berterbangan sejenak. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah lusuh. Itu adalah sketsa terakhir yang ditinggalkan Ningsih. Gambar sebuah gerbang tua berlumut dengan tulisan yang hampir tak terbaca. Di baliknya, Ningsih menulis: Tanda di peta.

Ia tidak pernah tahu ke mana Ningsih pergi.Tidak ada surat, tidak ada kabar. Hanya pesona itu yang tersisa, seperti jejak parfum yang tak lekang di udara.

Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di bahunya. Herman terkejut dan menoleh.

Berdiri di sampingnya, mengenakan mantel wol tebal, adalah seorang wanita. Rambutnya sedikit lebih pendek, senyumnya sedikit lebih matang, tapi mata itu... palet warna cokelat karamel yang hangat dengan kedalaman yang tak terjangkau.

"Masih menatap bulan yang retak, Man?" tanya Ningsih.

Herman berdiri, lututnya terasa lemas. Ia tidak bisa berkata-kata.

Ningsih mengambil tempat di sampingnya... "Saya tidak menemukan 'tempat' itu di peta, Man," katanya pelan. "Saya menemukannya di tempat yang paling tidak saya duga."

Ia mengeluarkan buku puisi tua yang sama, yang dulu mereka bicarakan di toko buku bekas. Ia membukanya, dan di halaman pertama, ia menunjukkan sebuah coretan yang baru ia tambahkan.

Herman. Rumah.

Air mata Herman menetes, membasahi pipinya. Ia tidak menanyakan bagaimana Ningsih kembali, atau apa yang ia lakukan selama setahun ini. Semua pertanyaan itu terasa tidak penting. Yang penting adalah, pesona yang ia simpan, kini berdiri di sisinya.

"Kamu kembali," bisik Herman.

Ningsih bersandar di bahu Herman. "Saya kembali. Saya sudah menemukan tempat di mana saya bisa benar-benar tinggal. Dan, saya kembali untuk membaginya denganmu."

Angin malam di tepi Danau Kaca kini terasa lebih hangat. Bulan di permukaan air tidak lagi retak, melainkan bersinar utuh. Herman memeluk Ningsih, menyadari bahwa pesona sejati bukanlah pada pencarian yang indah, melainkan pada kepulangan yang selalu ditunggu.




~ THE ~ END ~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta & Keinginan

Makanan & Minuman Khas Jember Yang Jadi Favorit Bagi Saya

Uang dan Cinta : Keseimbangan Hati dan Logika