Kisah Pria Baik Hati Yang Hidup Dikota Besar



Di sebuah kota yang tidak pernah benar-benar tidur, hiduplah seorang pria bernama Dias. Ia bukan orang kaya, bukan juga orang penting, tapi ia punya satu hal yang jarang dimiliki banyak orang.

Hati yang terlalu baik, Dias selalu menolong, tanpa bertanya, tanpa menghitung. Ketika teman tidak punya uang makan, ia memberi. Ketika tetangga butuh bantuan, ia datang.

Ketika orang lain meminta waktu, ia mengorbankan waktunya sendiri. Dan setiap kali ia membantu, mereka berkata hal yang sama. "Kamu orang baik".

"Kamu memang beda"... "Kalau bukan kamu, aku nggak tahu harus minta tolong siapa". Dias tersenyum karena ia percaya menjadi baik adalah hal yang benar. Tapi semakin lama, Dias mulai sadar sesuatu.

Orang-orang datang bukan karena mereka peduli, mereka datang karena mereka butuh. Ketika Dias punya masalah, tidak ada yang benar-benar bertanya... "kamu baik-baik saja?"

Mereka tetap meminta, tetap menuntut, seolah-olah kebaikan Dias adalah kewajiban. Sampai suatu hari Dias jatuh sakit, tubuhnya lemah, napasnya berat, ia butuh bantuan.

Setidaknya seseorang untuk sekadar menemani. Ia mengirim pesan pada orang-orang yang selama ini ia tolong. Satu demi satu. Tidak ada jawaban.

Ada yang membaca pesannya, lalu menghilang. Ada yang berkata sibuk. Ada yang hanya mengirim emoji. Dan ada yang bahkan tidak peduli membuka pesannya.

Hari itu, Damar menatap langit-langit kamar. Dan untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena sakit, Tapi karena sadar, selama ini ia bukan dianggap teman, ia hanya dianggap tempat meminta.

Setelah beberapa hari, Damar akhirnya bisa berjalan lagi. Ia kembali keluar rumah, dan seperti biasa, orang-orang datang. Dengan wajah manis, dengan kata-kata lembut. ''Dias, bisa pinjam uang sebentar?''

"Dias, bantu aku ya".... "Dias, kamu kan baik". Dias menatap mereka. Dulu ia akan langsung mengangguk. Dulu ia akan langsung berkata, iya.

Tapi hari itu ia menarik napas panjang dan berkata pelan, maaf, aku tidak bisa. Semua terdiam, seakan-akan kata itu adalah dosa besar. Seakan-akan orang baik tidak boleh menolak.

Mereka mulai berubah, mulai menjauh, mulai membicarakannya... "Dias sekarang sombong, ya".... "Dias berubah, Padahal dulu baik"... ,Dias hanya tersenyum kecil. Bukan karena ia bahagia, tapi karena ia akhirnya mengerti.

Orang yang benar-benar tulus tidak akan pergi hanya karena kamu berkata, tidak. Dan orang yang hanya memanfaatkan akan marah saat kamu mulai menjaga dirimu sendiri.

Malam itu Dias duduk sendirian, sunyi. Namun untuk pertama kalinya, sunyi itu terasa damai, karena ia sadar menjadi baik itu indah, tapi menjadi baik tanpa batas adalah cara paling pelan untuk menghancurkan diri sendiri.

Dan sejak hari itu, Dias tetap menjadi orang baik, tapi tidak lagi menjadi orang yang bisa dipakai sesuka hati.



~ THANK ~ YOU ~

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Orang baik itu bermanfaat tapi sering dimanfaatin. Tapi orang baik yg bijak itu beda, dia baik tapi tau menempatkan kebaikannya 🔥🔥🔥

    BalasHapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)

Close Menu