Cerpen : Tak Termiliki
Angin dibulan Desember berhembus lembut menyejukkan Stasiun kereta Kota Jember, terasa dingin dan getir, sama seperti perasaan yang mendekap hati Adinda. Ia berdiri di peron tiga, memperhatikan kereta kelas ekonomi yang baru saja merapat, mengeluarkan gerungan logam yang memekakkan. Di antara ribuan wajah yang bergegas, mata Adinda hanya mencari satu mata kelabu milik Satria.
Satria, seperti namanya, selalu hadir di akhir hari Adinda. Mereka bertemu pertama kali 3 bulan yang lalu, di gerbong kereta yang sama, berbagi keheningan yang nyaman dalam perjalanan pulang. Hubungan mereka tumbuh tanpa nama, tanpa janji. Adinda tahu setiap lekuk senyum Satria, setiap jeda dalam kalimatnya yang berarti keraguan. Satria tahu ambisi Adinda yang setinggi langit dan ketakutannya pada komitmen.
Malam ini, Satria datang terlambat. Ia berjalan santai, tas punggungnya menyentuh bahu Adinda. "Maaf, rapatnya molor," kata Satria, suaranya tenang, seperti hari-hari yang lalu.
"Tidak apa-apa,"... jawab Adinda, sedikit membeku. Ia selalu ingin memeluk Satria, di tengah hiruk pikuk ini, agar semua orang tahu, tapi ia tak pernah melakukannya. Satria tidak pernah memberinya ruang untuk kepemilikan.
Mereka naik ke kereta yang ramai. Adinda berdiri, Satria menyandarkan punggungnya ke pintu, mata mereka bertemu dalam refleksi jendela yang gelap.
"Kau terlihat lelah," ucap Adinda.
"Hanya... banyak pikiran,"...Satria menghela napas, "tentang kepulangan Jakarta."
Seketika, dingin yang lebih menusuk menjalar di dada Adinda. Kepulangan, Satria pernah menyebutnya, bahwa ia hanya sementara dikota Jember. Rencana yang selalu mereka hindari untuk dibahas secara mendalam.
"Kapan?" tanya Adinda, suaranya tercekat.
"Tiga minggu lagi. Sebagian barang-barangku sudah aku kemas," Satria menjawab, tatapannya jauh, seolah sudah melihat cakrawala lain. "Aku harus kembali, Dinda. Ini sering kukatakan padamu awal kita bertemu."
Adinda tahu itu. Ia selalu mengagumi Satria karena keberaniannya menghadapi tanggung jawabnya di kota Jakarta. Namun, mengetahui bahwa keberanian itu akan membawanya menjauh, terasa seperti ia sedang melihat matahari terbenam untuk terakhir kalinya.
"Mengapa kau tidak pernah memintaku untuk tetap?" tanya Adinda, nadanya bukan pertanyaan, melainkan luapan frustrasi yang terpendam selama ini.
"Karena aku tahu, menahanmu adalah egois. Dan... karena aku tak bisa menjadi milikmu, Adinda," kata Satria perlahan, kata-kata itu tajam dan jujur.
"Mengapa? Selama ini, kita..." Adinda tidak bisa melanjutkan. Kita apa? Mereka berbagi waktu, tawa, rahasia, dan kehangatan, tetapi mereka tidak berbagi masa depan.
Satria tersenyum tipis, senyum yang selalu membuat Adinda lupa diri.
"Kita adalah pemberhentian yang indah. Bukan tujuan akhir. Aku tak bisa menjadi milik siapa pun, Dinda. Aku milik petualangan, milik mimpi yang harus kuraih sendirian. Dan kau, kau terlalu baik untuk menunggu seseorang yang tak akan pernah berjanji untuk kembali."
Kereta mulai melambat di stasiun pemberhentian terakhir sebelum akhirnya lanjut kearah sebelumnya.
"Satria aku akan merindukanmu," bisik Adinda.
"Aku tahu," jawab Satria. Ia membalikkan badan, menggenggam kenop pintu... "Jagalah dirimu baik-baik, Dinda."
Pintu terbuka. Satria melangkah keluar, menyatu dengan kerumunan malam. Adinda melihat punggung itu menjauh, tanpa menoleh, tanpa keraguan.
Adinda tetap berdiri, kereta bergerak lagi, meninggalkan stasiun itu. Jendela yang gelap kini memantulkan wajah Adinda yang sunyi. Ia menyadari, sejak awal, Satria adalah sesuatu yang 'Tak Termiliki' seperti sepotong puisi yang indah yang hanya bisa dinikmati, bukan dibawa pulang. Satria adalah angin yang berlalu, meninggalkan aroma hujan dan janji bahwa hidup selalu penuh dengan kemungkinan, meskipun kemungkinan itu tidak termasuk dirinya.
Adinda memejamkan mata, membiarkan gerungan kereta menjadi musik perpisahan. Ia telah mencintai kebebasan Satria, dan sekarang, ia harus menerima konsekuensi dari cinta itu sebuah hati yang merdeka, namun sendirian.

Komentar
Posting Komentar